Kamis, 02 Juni 2016

Sekali Meloncat, Copotlah Jantungku (Masa masa SMP)

                   Senang, fly, gugup, salah tingkah, dan mulut yang tiba-tiba menjadi kaku. Kaku sekali. Perasaan-perasaan itulah yang aku rasakan ketika berangkat sekolah .

Copot!
                     Perasaan yang sama, seperti yang aku rasakan waktu lalu.

                     Waktu lalu, di suatu pagi, tanpa aku sangka-sangka, aku berpapasan dengan obyek “Zoom In”-ku (Zoom In dimaksudkan sebagai “Mengamati lebih dekat dan teliti). Ceritanya begini. Ketika akan menyeberang masuk ke sekolah, aku mendapati ternyata dia ada di depanku (sama-sama ingin menyeberang). Aku sengaja pelan-pelan untuk tidak mendahuluinya, kami masuk tempat parkir bareng-bareng, dan mungkin karena dia merasa dibuntuti dia mencepatkan laju motrnya dan segera meninggalkan tempat parkir.

                     Aku  yang kaget tidak sempat berbuat apa-apa. Dan waktu itu rasanya sudah senang sekali karena sempat melihatnya tersenyum saat aku mengantri di belakangnya untuk salim dengan guru.

                     Kejadian yang lain adalah ketika di kantin. Aku seperti biasa makan, ngobrol ngalor-ngidul dan membuat gaduh sendiri bersama teman-teman sekelasku. Saat itu dia yang juga sedang bersama teman-teman sekelasnya duduk di meja depanku. Dan dia menghadap ke arahku.

                     Aku dan dia sempat saling memandang sebentar (mungkin tidak ada sepersekian detik) dengan tanpa disengaja. Dan setelahnya aku melihat dia tersenyum. Saat itu juga aku berpikiran bahwa dia tersenyum setelah melihatku (ini pemikiran yang maksa banget).

                    Rasanya jantungku berdegup dengan kencang sekali. Gugup. Grogi. Aku memandang ke arahnya lagi dan dia hanya menundukkan kepalanya. Aku sudah tidak terlalu peduli dengan obrolan temanku tentang pertanyaan-pertanyaan absurd seperti “Apakah babi bisa menatap langit”.

                   Jarakku dengannya hanya sekitar satu loncatan. Tetapi setelah aku perhitungkan, mungkn jika aku meloncat ke arahnya, bisa-bisa jantungku lepas dari tempatnya, jatuh ke lantai, dan berdegup semakin kencang disana karena tubuhku sudah tidak bisa menahan kencangnya degup jantungku sendiri.

                   Dan yang terjadi pada pagi ini adalah dia menyalipku di jalan ketika berangkat sekolah. Ketika ada kemacetan karena di salah satu jembatan yang kami lalui sedang ada perbaikan, aku mengurungkan niat untuk menghentikan motorku di sampingnya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti mimisan, pingsan, atau kelihatan gugup di sampingnya. Kan tidak lucu juga jika seandainya di esok pagi ada berita di halaman depan koran yang ditulis besar-besar “SEORANG PELAJAR SMP PINGSAN DI JALAN RAYA, HAMPIR TIDAK KETAHUAN KARENA SAMA HITAMNYA DENGAN ASPAL JALAN.”

                  Berbeda dengan sebelumnya, kali ini dia tidak mencepatkan laju motornya di tempat parkir. Sayangnya, tetap saja mulutku tidak bisa diajak kompromi, tetap saja kaku, sehingga untuk menyapanya pun tidak jadi aku lakukan. Tetapi, lagi-lagi dengan melihat dia tersenyum saja sudah membuatku gembira dan salah tingkah sendiri.

                  Aku mendapat kutipan yang pas dari novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata yang berbunyi “Tembok yang kokoh tidak akan roboh dengan lemparan lumpur. Tetapi lumpur itu akan membekas di sana.”

   #Heningsebentar

#
Let me be the one, take care of you beyond the dark
Kill all my loneliness
Release me from the ice
Wake me up to hold you tight
Save all my arms around
SID – Wake Me Up
                Sekian.

Addarojatul Ula Syaharuddin Anshori
Smpn 2 Gedangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar